Setiap manusia tentu memiliki walau setipis kebaikan.

Begitulah yang aku tahu. Iya tak hanya tahu, berusaha mengerti. Kebaikan. Sebuah frasa yang sering bahkan hampir kita harapkan. Harapkan? Iya siapa di antara kalian yang tak menginginkan kebaikan. Tapi apa hanya sebatas ingin? Diberi? Mendapatkan? Mengejar? Setiap kita pasti bahagia jika mendapatkan kebaikan. Apalagi jika kebaikan itu bersumber dari sesosok pemerah pipi. Ah, rasanya tentu kita sama-sama pernah merasakan. 

Berbicara kebaikan. Sebelum berharap kita harus berbuat lantas mendapat. Sebuah pemikiran kecil yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang kiranya akan kembali kepada diri kita sendiri, entah kapanpun itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Tak perlu banyak merayu hanya setitik mau dan pastikan itu memang perlu. Setetes embun, meski hanya setetes tetap dianggap, tentu. Setetes yang berkelanjutan. Setiap pagi, mendongkrak rasa dingin yang memberi julukan rasa. Rasa dingin, rasa segar pada tiap tetes air yang biasa mereka sebut, embun. Setetes tapi ada dan nyata, rasanya.

Segerombolan semut, yang katamu ketika menggigit sakit. Coba lihat, mereka berbondong mencuil remahan roti dan memanggulnya berbaris. Tertata rapi berbaur dengan santai tapi tetap, membawa roti untuk disaji bersama teman yang siap mengiringi. Itu hanya sekilas kebiasaan hewan yang bernama semut. Apa kita tergolong mewarisi sifat semut. Kerja sama yang kiat-kiatnya harus kita jaga. Kerja sama yang saat bertemu ada tangan yang mendekap salam, derap-derap alam.

Berbuat kebaikan, tentu harus tulus tanpa paksaan. Jangan kau prediksi lalu semua dihitung proyeksi. Sedetail itu untuk sebuah "tabungan kehidupan". Ah, pola pikir yang kian hari kian mangkir. Lakukan semua dengan lepas tanpa memandang siapa yang naas. Toh suatu saat kita akan mendapat keadaan yang mungkin seirama. Dunia berputar bukan. 

Hidup tak selamanya matematika, dengan pasti-pasti yang nyata.
Tidak.
Hidup juga tak selamanya seperti ekonomi, yang bisa diprediksi tiap titik sunyi.
Hidup berkembang, mengikuti alur yang gamblang.

Lakukan semua hal yang menurut kita baik, tanpa menjatuhkan siapapun. Karena irama hidup akan terus berbunyi, menyusun nada-nada yang melodinya, belum pasti.

Jangan kuyu hanya karena kebaikanmu larut tersapu pilu.
Iya, berbuat kebaikan tanpa memikirkan balasan.
Tentu kita percaya cara Tuhan.
Yang tak membiarkan  hambanya keresahan.
Dirundung asa nyaris tubuh tertekan.



Bandarlampung, 03 Mei 2016.

Ada jejak.
Tak menapak.

Ada angin.
Meski tak dingin.

          Adamu.
          Walau bukan rindu.


Berlari.
Jika mulanya pagi.
Apa akhirnya semakin dini.

Berjalan.
Perlahan.
Apa akan tertahan.

           Diam.
           Bergumam.
           Bersua layak malam.

Gelap.
Pengap.
Senyap.

Jangan terusik.
Kau bukan khalayak klasik.

Bandarlampung, 02 Mei 2016


Waktu adalah rindu.

Iya, tak sedikit sepasang kaki yang berujar demikian. Lalu jika waktu adalah rindu bukankah banyak manusia ketika rindu ingin lekas bertemu, bercengraman, dan menemukan binar kebahagiaan atas sebuah perjumpaan. Nyatanya tidak berlaku di kehidupan kerasnya perjuangan. Tentu, aku, kamu, kita dan semua sadar pentingnya sebuah waktu. Hmmmm, sebatas kesadaran tanpa kepedulian.

Membiarkan puing waktu berlari tanpa usaha mengisi. Terbuai aroma mimpi yang meracun otak yang kerap berpikir, "Ah, nanti saja toh masih jam berapa ini." Lalu, mimpi semakin menyeruak. Menenggelamkan catatan-catatan misi menjadi lembaran bubur yang terbaca pun, tidak. Sekali lewat, dua kali lewat, dan membentuk suatu kesinambungan pola yang akan menjerat, kapanpun. Memasang perangkap, di kaki sendiri.

Menabur benih sebuah kepasifan masa depan, tak sadar. Beralih lelah padahal kalah. Iya, kekalahan terselubung, "Lekas datang untuk menunggu? Sayangnya ditunggu lebih baik." Pemikiran jiwa yang bisa dibilang, tak mau sedangkan mampu, berjuang. Iya berjuang tak hanya berkonotasi asmara bukan? Berjuang, menghargai siapapun dengan tak membuat waktu kian meragu. Apa kita pantas ditunggu atau justru kita hanya belas kasihan dari seorang yang katanya teman. Iya sesama teman yang hobi, ditunggu bukan menunggu.
Sepaket bukan?

Melekatkan sebuah yang bisa dikata sebutan? Panggilan? Julukan? Atau identitas celaan? Sebegitu mereka harus mengenalmu? Dengan cara yaaa, mencecerkan waktu. Semua diperjelas bahkan pengalihan harap pemakluman, "Jika tidak terlambat, itu bukan aku." Tidak sedikit bahkan tak pernah merasa malu. Jika hanya segelintir mungkin tak nampak. Tapi, bukan kah di dunia ini terdapat makna penularan. Dari satu manusia ke satu menusia lainnya yang kian hari kian merujuk pada tabiat. Harusnya jika itu baik tentu menjadi tabiat yang baik, ini sebaliknya.

Kata orang ada beberapa hal yang bisa dianggap biasa saja. Walaupun itu tidak baik. Pola pikir yang seseorang yang cenderung objektif bukan subjektif. Melihat siapa yang melakukan bukan apa yang dilakukan. Apa sebuah kesalahan kecil tak bermakna jika dilakukan oleh oleh ternama? Contoh kecilnya mudah, ini masih perihal waktu. Pernah memaklumi bahkan sering ketika seseorang yang terkenal secara biasa membiar waktu berlalu ketika seharusnya dia sudah ada di acara tertentu. Apa ada yang berani marah? Tidak bukan? Mereka hanya mampu menggerutu lewat senyapan-senyapan emosi yang kian tak teramu.

Selalu beranggapan perihal apa yang didapatkan akan sama saja dengan mereka yang lebih bisa menghargai waktu. Berpikir dan terus berpikir, "Ah, datang sekarang atau terlambat toh tak ada bedanya dengan mereka yang terlebih dahulu datang." Pikiran itu terus berkembang. Sekali lagi berkembang dan menjadi tabiat yang menular dari satu manusia ke manusia lainnya.

Seperti bermain layangan, tentu kita akan menjaga benang supaya tidak putus. Entah putus karena gesekan angin atau karena gesekan benang dengan layangan lainnya. Sama dengan waktu , kita harus pandai menjaganya, mengontrol, dan tak dengan mudah membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Bagi seorang peramu masak, waktu itu jurus jitu. Harus pandai agar hasil olahan secara pas dan sesuai. Bagi seorang dokter waktu itu nyawa, sedetik terlambat semua akan lewat. Bagi seorang guru waktu itu ilmu, memaksimalkan kesempatan agar pengetahuan tak hilang. Lalu apa makna waktu bagimu? Uang? Kesempatan? Pemberian? Atau apa? Tentu memiliki makna kan?

Sudah berapa waktu kita habiskan? Apa kita termasuk dalam golongan manusia yang membiarkan waktu berlari atau menghargai hingga memberi ruang untuk mengisi? Hidup ini adalah tentang waktu, menunggu sebuah nama tinggal semu. Tak usah merasa hebat jika bangga saat terlambat. Semua dimulai dari hal kecil, aku, kamu, dia, kita, kami, dan mereka.
Semua harus tahu, jika waktu adalah peluru jitu untuk menembus tujuan satu, bahagia.

Jangan terlalu percaya diri jika besok tak akan mati. Hargai waktu seperti kita menghargai rindu, yang lantas menggebu ingin bertemu. Terlambat bukan budaya hebat. 

Sekali lagi.
Jika waktu adalah rindu, kamu harus bergegas untuk bertemu.

Bandarlampung, 23 April 2016.

Kehilangan, hilang yang tak pernah direncanakan. Iya, semua orang tak akan ada yang mau merasa hilang, kehilangan, dihilangkan. Menghilang? Hanya sebuah pelarian atau pelampiasan yang berujung, kehilangan. Tentu fase kehidupan tak akan pernah tetap, selalu berjalan, berputar, bergerak, dan berubah. Lantas apa semua itu tetap akan berujung kehilangan? Jawabannya iya. Butiran pasir, terbawa angin, terbang atau hilang. Membaur dengan pasir-pasir lainnya. Terkena air, basah. Terkena matahari, kering. Nyatanya lebih baik basah, tak mudah terbang lantas hilang.

Dua, satu. Di dunia ini hampir semua tentang dua dan satu. Dua, dua, dan dua. Satu, satu, dan satu. Pilihan memioih satu dari dua. Setiap kata terlahir hampir berpasangan. Mati - hidup, suka - duka, rindu - temu, baik - buruk, sunyi - ramai, senyum - marah, tangis - tawa, aku - kamu, datang - pergi. Hilang? Apa teman katanya? Apa hilang memang ditakdirkan sendiri? Dengan sunyi yang selalu merindu. Dengan tangis yang semakin mengiris. Dengan hati yang terlihat mati. Dengan duka yang tanpa rasa. Dengan kamu yang hanya kujumpa lewat kemayaan sebuah ponsel yang katanya cerdas. Iya cerdas, katanya.

Seperti burung hantu, makhluk nokturnal mata ini lebih tajam ketika lelap telah merajamu, memelukmu dengan lembut, dan merasakan hembus lelah yang tak tersampaikan. Iya, mataku berkerja keras atas itu, hanya mengamati tanpa mendampingi. Sehari, dua hari, tiga hari, dan entah sampai kapan. Keberanian yang tersapu ombak, bahkan sebelum terukir di hamparan pasir putih itu. Lucu, memang. Menjadi seonggok niat yang belum tertoreh, sudah hilang. Hah, sekali lagi hilang. Hilang yang kerap menjadi handai kehidupan. Iya. Secara tak sadar, pasti. Miris? Tidak, niat pun sudah ada secercah kebaikan bukan? Kebaikan yang tersamun.

Seperti sekumpulan tikus, hitam, dekil, bau, dan tak menyeruakan nafsu makan sedikit pun. Rasanya menggegam tombak dan menjuruskan ke kumpulan bau agar semua mati, enyah, dan berhamburan menyelamatkan diri masing-masing. Mati satu, apa sudah selesai? Belum. Mati semua, apa sudah tak ada masalah? Semakin banyak. Rantai perputaran hidup yang sedikit terganggu, bukan sedikit bahkan banyak. Tak ada lagi santapan untuk ular-ular besar yang kelaparan. Semakin liar? Iya siklus ekosistem sederhana yang menurut kita tanpa guna justru meliarkan keadaan. Memang, apa yang terlihat sederhana maknanya tak sedangkal itu. Banyak kehidupan, penyelamatan di dalamnya.

Seperti lolongan anjing yang kian malam kian membising. Siapa hendak marah? Marah? Kepada binatang yang tak semestinya dihakimi. Hanya seekor binatang. Tugasnya menggonggong, bukan mencari sebuah pembelaan. Makhluk yang dengan suara lirih memperketat penjagaan. Penjagaan? Iya dirinya dan pemiliknya. Sampai nanti, lahir kecil besar dan hilang. Kenapa hilang lagi? Tak ada frasa menawan lainnya? Cinta misalnya?

Karena hidup tentang persiapan. Jangan terlena oleh kiasan menawan. Dipuji hebat, bahagia?
Terlena?
Lupa?
Siapa?
Jatuh?
Terteguh?
Menyerah?
Dan ....
Hilang!

Dunia, pasti akan hilang. Entah kapan. Dan tak usah memikirkan sejauh itu. Pikirkan, kapan orang yang kau dambakan hilang dan kau hilang. Jangan bersedih, berbuatlah yang baik sebelum hilang. Karena hilang adalah keputusan tanpa perencanaan. Yakinlah, hilang pasti. Sebelum hilang kita harus melalang, arti kehidupan.

Bahagiakan hidupmu sebelum bahagia bosan teracuhkan, selalu.

Bandarlampung, 16 April 2016.


Berubah atau kamu menjadi sampah.

Seperti itu kira-kira pernyataan seorang teman yang terus terngiang dalam benak aku sekitar dua tahun silam. Iya, masa di mana aku mulai mengalami berbagai macam kontemplasi dalam hidup. Semua berawal dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan oleh pihak kampus. “Siapapun yang ditempatkan pada wilayah terpencil wajib mengenakan hijab.” Bagai tersengat listrik mendengar pernyataan tersebut. Entah, segala rasa yang mulai tak karuan menyeruak secara liar. Bahkan, kala itu aku  sempat beranggapan bahwa Tuhan tak adil kenapa menempatkan aku di wilayah yang, hah,sangat jauh dari hingar-bingar perkotaan. Tak lama dari pengumuman penempatan, setiap kelompok harus berkumpul dan mendiskusikan apa yang diperlukan dan wow, dari sekian wanita di kelompok hanya aku yang tak mengenakan hijab, bahkan aku ketika harus berfoto bersama pun aku hanya satu-satunya yang tak mengenakan hijab. Sebuah pukulan yang sebenarnya amat berat pada saat itu, bahkan aku sempat menangis tak terima kenapa aku harus menerima kelompok dan lokasi yang mewajibkan berhijab.

Terus menyalahkan keadaan tak ada mengubah apapun, aku mulai bisa menerima peraturan kampus yang agak nyeleneh dan aku terus menyemangati diriku sendiri, “Tenang Ka, cuma tiga bula kok, abis itu kan enggak pake, di kampus ya enggak pake gak apa.” Begitulah yang aku sugestikan kepada diriku sendiri agar bisa menerima apapun yang akan terjadi ke depanya. Semua berjalan lancar, hingga tibalah di sebuah desa jauh dari gemerlap perkotaan. Desa yang tepat berada di atas bukit, dengan kondisi jalan tanah merah, sinyal terbilang sulit, dan listrik yang hanya mengandalkan kincir air (iya, untuk menghidupkan laptop perlu bergantian, atau “tep”, listrik tidak kuat). Kelompok kami terdiri dari sepuluh orang, empat laki-laki dan sisanya perempuan yang tinggal di sebuah rumah kosong yang sengaja dikontrakan untuk kami. Iya kami tinggal bersepuluh tanpa induk semang. Beruntung, aku mendapatkan anggota kelompok yang terbilang “bagus” dari segala sisi, pergaulan, agama, dan ilmunya. Aku lantas berkata kepada salah satu teman, “Ini pake hijab punya pas di luar aja kan? Di rumah enggak pake enggak apa-apa lho.” Sejak saat itu aku hanya mengenakan hijab ketika ingin keluar mengajar atau ada kegiatan di desa tersebut.

Tiga bulan, aku banyak belajar dari kelompok yang sekarang jika aku mengingatnya aku amat rindu. Kelompok tersebut aku memunyai dua orang yang selalu mengingatkanku pada kebaikan. Mengubah pola pikirku yang terkesan “arogan” dan jauh dari kata lembut. Banyak, banyak hal yang aku pelajari dari sana. Bukan hanya ilmu, tapi cara bersikap, aku secara tak sadar mengalami perubahan yang lumayan drastis. Tiga bulan pun berlalu, kami sudah harus kembali pada rutinitas masing-masing. Dan sebelum kami kembali ada salah seorang teman bertanya, “Jadi pake hijabnya lanjut apa enggak nih?” Aku terdiam, berpikir seribu kali untuk mempertimbangkan semuanya. Hingga aku menjawab dengan anggukan pelan. Hah! Apa-apaan, Ika yang ketika hendak berangkat KKN nangis karena diharuskan berhijab kenapa pulang dari sini malah memutuskan untuk berhijab. Jawabannya simple, semua akan berubah pada waktunya. Pernah ketika aku sedang uring-uringan aku lantas berkata, “Dosa gue apa, sial amat hari ini.” “Dosa lo enggak nutup aurat di depan gue.” jawab seorang teman yang lantas membuat kutersedak. Tapi dari jawaban itu aku jadi mulai berpikir, oh mungkin sudah saatnya aku berubah.

KKN sudah lewat, dan semua sudah kembali ke dunia masing-masing. Di kampus aku sudah sedikit berubah (kata beberapa orang teman). Ika yang dulu suka marah-marah dan mengeluarkan kata kotor sekarang hanya menghela nafas jika emosi sudah tak karuan. Ika yang mudah galau kini lebih menyibukan diri pada hal yang bermanfaat, dan Ika yang katanya seksi (ini katanya, aku tak pernah merasaseperti itu hahaha) sudah berhijab. Bahkan lebih dari itu, aku menghapus lagu-lagu yang bisa membawa galau dan aku ganti dengan lagu semangat positif. Ternyata dari hal kecil bisa mengubah segalanya. Manfaat mengubah lagu yang didengarkan ternyata membawa efek yang sangat luar biasa terhadap pola pikir kita. Aku juga jadi jarang bergosip untuk hal yang tidak penting, ini serius entah kenapa aku jadi malas membicarakan hal yang tak penting seperti mengumbar kejelekan orang lain (eh kalian jangan salah paham, aku berhijab biasa kok, masih pake jins dan jilbab model-model itu :D).
Setelah beberapa waktu aku mencoba mengganti foto profile social mediaku menjadi foto yang menganakan hijab, iya semua aku lakukan secara perlahan. Aku mulai belajar berbinis kecil-kecilan bersama beberapa teman yang awalnya bukan teman dekatku. Iya, aku mencoba keluar dari zona nyamanku. Karena rutinitas yang lumayan padat bersama mereka secara tak sadar kehilangan sahabat-sahabatku sebelumnya, entahlah siapa yang salah tapi aku selalu berpikir positif mungkin sudah waktunya. Diterima secara baik oleh teman-teman baru yang awalnya aku tidak dekat dengan mereka adalah hal luar biasa. Mereka mau menerimaku dan segala sifat yang sedang aku perbaiki. Ya, walaupun dalam hati mungkin aku menangis, di saat aku sudah bebenah diri aku justru kehilangan orang yang dari awal masuk kuliah selalu menemanimu. Aku tak lantas putus asa dan menganggap semua sudah jalan Tuhan untuk aku lalui. Aku kerap bercerita dengan dua orang sahabatku yang aku kenal ketika KKN dahulu, mereka mensupportku secara baik, hingga saat ini.

Berbicara masalah pasangan, entah justru aku sekarang belum terpikirkan masalah itu. Rasanya hanya sia-sia ketika kita menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Atas motivasi dari sahabat-sahabatku dan buku yang selalu aku baca (dari dulu memang hobi membaca apapun), aku justru berpikir harus terus memperbaiki diri dan segala kualitasnya. Jodoh itu pantasan diri tapi ingat pantaskan diri bukan karena jodoh tapi karena Tuhan. Begitulah kira-kira, jika aku aku mulai jenuh aku kembali mengingat tujuan awalku, memperbaiki diri semaksimal mungkin.

Sebuah perjalanan yang tak mudah, bahkan aku sempat berpikir, “Apa aku harus kembali seperti dulu.” Tapi ternyata jawabannya tidak. Setiap kehidupan semua ada masanya. Aku sempat sedih ketika membuka salah satu media social yang di dalamnya tedapat omongan negative untuk salah satu artis yang kini sudah berhijrah, “Sekarang alim, dulu mah pacaran dan hobi main dan ini itu.” Glekkkk, apa orang yang berusaha baik tak boleh punya masa lalu yang bisa dibilang buruk. Apa orang yang dulunya buruk tak boleh berubah untuk hidup yang lebih baik. Pada zaman aku hidup sekarang ini bayak penghakiman sepihak tanpa turut merasakan. Entahlah, setiap jiwa mempunyai tujuan dan pola pikir yang berbeda, dan aku turut berdoa semoga mereka lekas sadar atas kekeliruannya. Lebih baik terlambat dari pada tidak.

Untuk sahabat yang kini kita sudah semakin jauh, aku hanya bisa meminta maaf melalui tulisan ini karena menjelaskan apapun tak akan mengubah segalanya. Maaf jika perjalanan kita hanya bisa sebatas ini, tapi aku yakin segala yang kita lewati tak akan pernah sirna.

Untuk teman-teman kelompokku selama KKN, terima kasih. Terima kasih kalian sudah memberikan aku pelajaran yang luar biasa banyak dari hal kecil hingga hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Untuk sahabat-sahabatku yang mulai aku kenal lebih dalam semenjak semester akhir, kalian hebat. Jika dulu aku tak pernah berpikir untuk lebih dekat dan menyelami dunia bersama kalian kini aku tumbuh dan belajar banyak dari kalian. Mau menerima aku yang masih dalam kekurangan ini dan sabar menghadapi sifat yang terkadang sok bijak (ala Mario Teguh). Kita menguat bersama, dalam segala keadaan. Menggila dan mencoba membuat lelucon konyol hanya untuk mengartikan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tetap menjadi sahabat yang terus berkembang dalam segala hal. Tetap kuat menghadapi segala yang menguji kalian. Apapun terima Kasih.

Untuk kedua sahabatku yang aku kenal lewat KKN, sulit aku ungkapkan bagaimana bahagianya bisa mengenal dan memiliki sahabat sekalian. Bahkan kalian terhitung jarang memberi masukan yang menyenangkan hati. Tamparan demi tamparan selalu mendarat di hati ini demi perubahan yang lebih baik lagi. Bahkan sebenarnya kita jarang komunikasi, iya sekali bertemu bercerita banyak hal dan mencari solusi yang baik. Sahabat bukan orang yang selalu member senyum dan membahagiakan tetapi perlu menampar agar kita bisa lebih baik lagi, dan kalian salah satunya.

Tak luput aku turut berterimakasih kepada orang tua dan Tuhan. Aku sadar ini sebuah perjalanan yang  nantinya berujung indah yang tuhan siapkan untuk aku. Dengan awal yang sulit tapi banyak kekuatan yang turut membantu di dalamnya. Aku selalu bersyukur lahir dari kedua orang tua yang kuat menghadapi anak yang belum bisa dibanggakan ini.

Oiya aku juga turut berterimakasih karena sudah diajak bergabung dalam salah satu grup blogger. Aku banyak mengenal orag baru dan mengajarkan aku banyak hal. Iya, teman dunia maya yang berjumpa saja belum pernah tapi banyak memberikan ilmu yang tidak aku dapatkan dari sekelilingku. Grup yang setiap hari berbunyi dan ada cerita-cerita unik di dalamnya. Aku banyak belajar dari kalian, ya kalian masuk dalam perbaikan-perbaikan hidup aku. Semoga kalian masih mau berbagi ilmu denganku yang masih seperti butiran debu ini (agak lebay ya hahaha).

Untuk kalian yang membaca ini, dalam kehidupan kita tentu akan melewatiu fase yang amat sulit. Mungkin kita pernah merasa depresi dan tak tahu harus berbuat apa, tapi percayalah kekuatan itu adanya hanya dalam diri kita sendiri. Kita yang tahu harus bagaimana membawa kehidupan kita di kemudian hari. Iya hanya kita dan restu Tuhan tentunya. Dua tahun aku mulai semuanya dari awal dan semoga berbuah manis dikemudian hari, aamiin. Sebuah perjalanan panjang yang tidak dapat aku jabarkan semuanya. Masih-masih banyak hal yang tidak aku ceritaka, tapi satu hal jika kita ingin berubah semua dimulai dari hati bukan karena paksaan. Berubah menjadi lebih baik atau kita hanya akan menjadi sampah yang siap dibuang atau tidak diharapkan. Tak ada niat mengumbar apapun, aku hanya ingin berbagi cerita yang sarat akan makna di dalamnya. 

Hidup hanya sekali, jangan sampai kita menyesal di kemudian hari.

Salam,

Wanita yang masih berusaha lebih baik lagi.


Bandarlampung, 05 April 2016.
Guru hebat, apa yang kalian pikir tentang guru hebat? Iya mungkin di antara kalian  ada yang berpikir bahwa guru hebat adalah guru yang menginspirasi. Jawaban tersebut benar, tetapi saya tidak ingin membahas itu. Guru hebat guru yang ber­sahabat, begitulah saya menyebutnya. Guru bersahabat, men­coba melakukan pen­dekatan dengan siswa secara mendalam. Tidak hanya terpaku pada keseluruhan objek di dalam kelas, tetapi mencoba mendekatkan satu personal dengan personal lainnya. Cara ini dika­ta cukup ampuh menggugah minat belajar siswa dibanding­kan dengan cara yang bersifat “galak”.

Tentu kalian pernah mengalami masa sekolah dan berhadapan dengan guru yang terkesan “galak”. Bagamana rasanya? Takut? Dipaksa diam dan mendengarkan apa yang dijelaskan atau diajarkan guru tersebut? Lalu apakah kalian nyaman? Apakah hal yang kalian pelajari akan dengan mudah dipahami? Jawabannya belum tentu. Siswa yang didikte dengan pengajaran yang terkesan “galak” akan merasa terpaksa menerima pelajaran dan cenderung bergumam dalam hati masing-masing dan ingin lekas mengakhiri pelajaran yang sedang didapatkannya. “Ah, kenapa lama sekali jam istirahatnya.” “Duh guru ini kapan sih enggak masuk.” Masih banyak lagi percakapan dalam hati seorang siswa yang mereka ke­luh­kan setiap kali berhadapan dengan guru yang terkesan “galak”.

Jika dengan berhadapan dengan guru seperti itu siswa merasa tidak nyaman, kena­pa masih ada saja guru yang tetap memegang prinsip “galak”. Jawabannya mudah, mereka ingin siswa mengikuti apa yang dijelaskan dan “dipaksa” diam dengan sua­sana yang sebenarnya tidak nyaman serta ingin dihormati serta dihargai. Dengan bersifat galak secara tidak langsung guru menciptakan suatu gap atau batasan antara guru dengan siswa. Guru yang terkesan galak juga identik dengan guru yang “akrab” memberi hukuman. Contohnya saja ketika siswa  terlambat, lupa mengerjakan tugas, atau berisik di dalam kelas. Sebenarnya niat utama memberi hukuman sudah benar yaitu agar siswa merasa jera dan tidak melakukan ulang kesalahan ter­sebut. Namun cara yang digunakan kurang efektif, apakah yang didapat dari seorang sis­wa setelah menerima hukuman yang bersifat “menyiksa”? Contohnya saja berdiri ditengah lapangan, berlari, atau push-up beberapa kali. Tentu itu secara tidak sadar akan membangun ingatan yang lekat pada memori siswa. Menghukum siswa bisa di­­mulai dengan menasehati siswa yang melakukan kesalahan. Jika tidak ada per­ubahan guru mencari penyebab mengapa siswa tersebut selalu menjadi “penyakit” di sekolah. Setelah itu barulah seorang guru bisa mencari solusi untuk siswa tersebut.

Seorang guru yang bersahabat bukan berarti bisa dianggap “menye-menye” dan jauh dari kata dihor­mati. Tentu hal itu salah, karena dihormati merupakan hak seorang guru. Tapi yang perlu ditekankan, mau dihormati dari dalam hati atau secara terpaksa itu pilihan. Guru bersahabat tentu memiliki kete­gasan dan aturan tersendiri dalam mendidik siswanya. Iya, tegas dan galak merupakan suatu definisi yang berbeda. Toh tegas juga tak ada sangkut-pautnya dengan sosok yang “menakutkan”. Guru bersahabat mencoba melakukan pendekatan-pendekatan de­ngan siswa secara personal.

Kenyataannya pendekatan guru terhadap siswa mampu memberikan yang efek positif. Seorang guru mam­pu mengenali sifat, sikap, dan karakter siswanya sedangkan siswa merasa nyaman dengan guru dan mereka merasa dihargai, diterima, bahkan diperhatikan oleh guru. Lalu bagaimana dengan siswa yang “bermasalah”, iya di sinilah letak kelebihannya. Siswa yang bermasalah dan mendapatkan pendekatan halus dari seorang guru merasa diterima dan tidak dibedakan dari siswa lainnya. Sementara itu guru juga dapat menelisik lebih jauh sebab seorang siswa yag kerap menjadi “penyakit” di sekolah. Bahasa mudahnya, siswa merasa diterima, guru tetap waspada.

Guru bersahabat mencoba berbaur dengan siswa dengan batasan yang sudah diketahui (batasan yang dimaksud ialah batasan kesopanan, etika, dan perilaku). Dengan begitu, siswa merasa nyaman dan guru juga dapat dengan leluasa me­nyam­paikan ilmunya. Jika siswa sudah merasa nyaman, bukankah pelajaran akan dengan mudah diserap? Menjadi guru bersahabat dengan siswa bukanlah hal yang mudah. Tapi dengan begitu akan banyak hal positif yang didapatkan. Jika guru sudah mampu bersahabat dengan siswanya secara otomatis guru akan lebih mudah memotivasi siswa bahkan menjadi sosok yang inspiratif bagi siswanya kelak.

Guru merupakan sosok amat berkaitan dengan perkembangan siswa kelak. Guru tidak hanya mengajarkan, menyampaikan, tapi juga mendidik siswa agar menjadi insan yang beguna kelak. Guru ialah pembangun insan cendiqia. Yuk, kita cermati lagi bagaimana pola pengajaran guru yang lebih efektif dan memaksimalkan pe­nge­­tahuan serta kecerdasan siswa. Menjadi guru hebat, bersahabat, dan bisa meng­inspirasi tentu tak mudah tapi setiap perjuangan pasti hasil yang luar biasa. Jika gu­ru tidak memulai bagaimana guru akan mengetahui hasilnya.

Salam,

mantan siswa sekaligus guru pemula.

Secarik surat di atas meja.

Siapa pemiliknya?

Semuanya.

Pasti punya.

Kontrak diri.

Kelak (pasti) pergi.


Bandarlampung, 27 Maret 2016


Cinta itu?

Kertas.
Pensil warna.
Sedikit air.

Jangan kau tumpahkan airnya.
Jika basah.
Kering pun percuma.

Cinta.
Cinta.
Ci(n)ta.

Bandarlampung, 27 Maret 2016.


Tertawa adalah cara berbicara yang sebenarnya.
Kenapa?
Kau selalu bertanya itu saja.
Iya.
Tertawa.
Sebuah bahasa yang tak nyata.

Menangis adalah kesahan yang paling sederhana.
Tapi efeknya?
Tak sesederhana itu.
Matamu?
Senyummu?
Rautmu?
Tentu berubah.

Marah adalah luapan yang paling liar.
Tak peduli siapa yang benar.
Menenangkan tak jua sadar
Membiarkan tentu melebar.
Lalu?
Peluk.
Barangkali amarahnya butuh pelukan.

Diam adalah bom waktu yang kelak menyeru.
Menunggu pilu.
Datangpun membelenggu.
Lalu?
Iya coba rayu.
Bermain genit lucu.
Barangkali ada resah yang mengganggu.

Doa adalah kemaksimalan usaha yang hampir pasrah.
Beban lelah.
Iya.
Percakapan sunyi.
Tak tampak siapa lagi.

Tertawa, menangis, marah, lalu diam?
Jangan lupa tetap berdoa.

Tak percaya?
Cobalah.

Bandarlampung, 27 Maret 2016


(sumber Gambar: Linedeco.com)


Katanya rasa cinta perlu diperjuangkan, lalu memperjuangan cinta yang mengenal saja belum setahun apa bisa dibilang cinta. Ah, apapun itu tekat Gatan malam sudah bulat, ingin menyatakan perasaannya kepada wanita yang selama ini dekat dengannya, Ralinka. Gantan percaya bahwa seorang laki-laki harus berani mengambil resiko apapun, tak terkecuali resiko jika ia ditolak secara langsung oleh Ralinka.


Gantan tampak sibuk mempersiapkan apa yang pantas ia kenakan, kemeja biru muda dengan lengan digulung hingga siku, lalu celana jins hitam yang bawahnya tidak ketat dan juga tidak cutbrai, kemudian jam tangan warna hitam yang menghiasi tangan kirinya. Rambut menjadi bagian yang tak terlewatkan olehnya, ditat sedemikian rupa agar wajah orientalnya memancar ketampaan secara  maksimal. Terakhir Ganta menyemprotkan parfum aroma D&G ke seluruh tubuhnya. Sejak bangku SMP Gantan tidak pernah mengganti parfum yang ia kenakan. Menurutnya aroma parfum ini telah menjadi cir khas dirinya dan wanginya tidak terlalu menyengat. Wajar saja, Gantan tidak bisa terlalu intens mencium aroma parfum yang terlalu keras, jika terpaksa parfumnya habis, ia lebih memilih mengenakan Gatsby Musky Splash Colone.


“Bu, Gantan udah ganteng belum?” tanya Gantan sambil berdiri di depan ibunya.

“Lha anak ibue mah yo ngganteng, kamu mau ngajak keluar Ralinka le?”

“Iya bu, tadi udah dihubungin, nanti jam tujuh Gantan jemput dia bu.”

“lha yowes hati-hati wae le, bue donga’ke lancar. Titip salam untuk Ralinka.”

“Siap bu!” ujar Gantan sambil mencium punggung tangan ibunya.

Gantan lekas mengeluarkan sebuah Honda Mobilio berwarna putih. Ia pun mengendarai dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama, Gantan sudah sampai di depan rumah Ralinka, di bilangan Perumahan Villa Citra. “Pukul 06.47 WIB, syukurlah aku tidak telat.” gumam Gantan dalam hati. Gantan lekas masuk ke rumah yang nuansanya elegan. Secara tidak sengaja Gantan mendapati Papanya Ralinka sedang ada di beranda rumah.

“Assalammualaikum om.” ujar Gantan sambil mencium punggung tangan om Pahar, papanya Ralinka.

“Waalaikumsalam nak Gantan, jemput Ralinka kan.”

“Iya om, Ralinkanya sudah siap om?”

“Sudah dari tadi, lagi naik ke kamar ngambil tas katanya tadi. Linka, ini nak Gantan udah sampe lho.” ujar om Pahar sambil memanggil anak kesayanagnnya.

Ganta hanya tersenyum menanggapi om Pahar yang disusul oleh kemunculan Ralinka di depan pintu.

“Eh udah sampe, mau masuk dulu atau langsung pergi?” suara Ralinka yang membuyarkan lamunanku sesaat.

“Langsung aja Lin, nanti kemaleman pulangnya gak enak sama papa kamu.”

“Ah, nak Gantan, om percaya sama kamu pokoknya soal Linka.”

Gantan kembali tersenyum menyambut perkataan om Pahar. Dan seketika itu Gantan langsung berpamitan kemudian membukakan pintu mobil untuk Ralinka. Sepanjang perjalanan Gantan dan ralinka tak banyak berinteraksi. Hanya sesekali Gantan mencuri-curi padangan ke wajah Ralinka yang malam ini terlihat sangat anggun. Dengan dress berwarna pink soft dan rambut panjang yang sisi kanannya diselipkan di telinga menambah keanggunan Ralinka malam ini. Ralinka dan Gantan sudah memasuki salah satu restoran berkelas di Bandarlampung. diiringi nuansa romantis gantan dan Ralinka berjalan menuju kursi yang telah dipesan Gantan tadi siang. Gantan menggeser kursi dan mempersilakan Ralinka untuk duduk. Aroma parfum Ralinka seketika menyeruak hidung Gantan.

“Kamu wangi banget Lin.” bisik Gantan yang membuat Ralinka tersenyum malu. Mereka memesan makanan yang sama, tak banyak kata yang dikeluarkan oleh Ralinka maupun Gantan ketika sedang menyantap hidangannya. Secara tidak langsung Gantan dan Ralinka menikmati alunan lagu klasik yang sedang diputar. Gantan rupanya tak lantas fokus dengan makanannya, ia justru terlihat sesekali memandang Ralinka. Ralinka yang  sadar hal itu membiarkan dan berpura-pura tidak tahu.

Ralinka kini sudah menyelesaikan makan malamnya, begitupun dengan Gantan. Ralinka sesekali menengok handphone­nya dan Gantan justru asik mengikuti lirik lagu yang sedang diputar.

“Lin, menurutmu aku ganteng gak?” Tanya Gantan yang membuat Ralinka tersedak walau sedang tidak makan ataupun minum kala itu.

“Pertanyaanmu itu lho Tan, aneh.” Jawab Ralinka sambil tertawa kecil.

“Ah, aku maunya kamu langsung jawab. Ganteng gak hayooo?” ujar Gantan sambil memainkan kedua alisnya. Mendengar hal itu Ralinka lantas menyubit tangan Gantan yang diikuti Gantan meringis kesakitan. Banyak obrolan yang telah mengakrabkan gantan dan Ralinka malam itu. Bahkan Gantan tak segan mengacak-acak rambut Ralinka ketika sedang bercanda. Gantan berulang kali melihat jam tangannya yang maish menujukan jam Sembilan malam. Ralinka sempat menangkap rona gelisah di wajah Gantan.

“Kamu kenapa Tan? Udah ingin pulang? Kok kayanya gelisah banget.”

“Nggggggg, aku cuma mau ngasih ini Lin.” ujar Gantan seraya memberikan sebuha novel kepada Ralinka.

“Wah, kamu ngasih aku novel? Makasih lho Tan. Eh ini apa?” tanya Ralinka sambil memegang sticky note yang ada di atas novel tersebut.

“Buka aja.”

Hay manis.
Setelah kamu terima novel ini aku punya pertanyaan.
Apakah kamu mau berjuang bersamaku untuk sebuah masa depan yang indah?
Gantan.


Ralinka sesaat tak bergeming sedikitpun seraya menatap Gantan. Ia terlihat bingung harus bagaimana, tetapi rona kebahagiaan tentu tak dapat disembunyikan dari wajahnya. Gantan lantas memegang tangan Ralinka belum memberikan komentar apapun tentang tulisan yang ada di sticky note tersebut. Gantan tersenyum dan menatap mata Ralinka dengan lekatnya.

“Hey, kamu diem aja. Kok pertanyaan aku gak dijawab? Susah ya?” tanya Gantan sembari masih mencengkram kedua tangan Ralinka secara lembut.


Ralinka tidak menjawab perkataan Gantan, Ia hanya mengangguk kecil, mengisyaratkan suatu hal kepada Gantan. Gantan memaknai anggukan itu seksama dan akhirnya gantan mengerti maksud anggukan ralinka.

“Terimakasih kamu mau memberika aku kesempatan untuk berjuang Lin.” ujar Gantan yang hendak mendaratkan kecupan pertamanya di kening Ralinka. Secara tiba-tiba suara nada dering Techno Ring mengagetkan Ralinka dan Gantan. Saat itu juga Ralinka membuka pesan di handphonenya. “Sial, baru mau cium udah gagal.” gerutu Gantan dalam hati.


Tak banyak basa-basi dari Ralinka setelah membalas sebuah pesan yang ada baru saja diterima. Ralinka sadar jika Gantan sedikit kesal dengan pesan yang secara tiba-tiba masuk ke handphonenya.

“Ini sms dari Nova, sahabat aku nanya aku lagi sama siapa.” jelas Ralinka kepada Gantan.

“Iya gak apa-apa kok, yang penting dari cewe kan.” ujar Gantan sambil mencubit dagu Ralinka.


Gantan lalu mengajak ralinka sekaligus mengantarnya. Gantan sadar sudah semakin malam dan Ia mempunyai tanggung jawab untuk mengantarkan Ralinka pulang, toh pulang terlalu malam tidak baik. Hal itu yang selalu Gantan pegang dalam benaknya ketika membawa seorang wanita keluar bersamanya. Gantan berjalan menuju mobil sambil menggandeng tangan Ralinka. Meskipun terlihat kaku tapi Gantan tidak malu melakukan hal ini di depan khalayak ramai, sebuah restoran.

Tak butuh waktu lama untuk Gantan mengantar Ralinka. Sepanjang perjalanan Gantan dan Ralinka membicarakan hal yang tidak jelas tujuanya hanya untuk lelucon. Gantan sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Ralinka. seketika Gantan turun dan Membukakan pintu mobilnya untuk Ralinka.

 “Aku gak mampir ya gak enak. Salam sama papa kamu, maaf udah mulangin anaknya kemaleman.”
“Iya gak apa, kamu hati-hati jangan ugal-ugalan bawa mobilnya. Kabarin kalo udah sampe rumah”
Gantan mengangguk dan lalu mencium kening Ralinka. “Yess, akhirnya bisa cium juga.” gumam Gantan dalam hati. Gantan lalu pergi meninggalkan rumah Ralinka. perasaannya amat bahagia. Gantan tak sabar ingin memberi tahu ibunya perihal mala mini bersama Ralinka. Gantan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan ibunya, termasuk menerima permintaan ibunya untuk menjalani pendekatan dengan Ralinka.

Gantan berharap ini adalah langkah baru dari semua langkah yang sudah dilewati sebelumnya. Bahkan Gantan tak sabar ingin lekas menceritakan hal ini kepada Nay, sahabatnya. Nay harus tahu langkah yang baru saja Ia ambil. Sebuah langkah yang kelak ke depannya akan menjadi batu pijakan baru bersama Ralinka. Nay tidak boleh melewatkan satu ceritapun di hidup Gantan. Gantan merasa bahagia telah berhasil memiliki seorang Ralinka, walau baru beberapa jam saja. Setidaknya ada waita lain di hidupnya kecuali ibu dan sahabatnya.

Gantan sadar, dalam kehidupan selalu ada babak cerita baru yang akan dimulai. Cerita yang akan banyak sub-sub cerita kecil di dalamnya. Dan malam ini, Gantan sedang memulai menulis cerita dirinya bersama Ralinka. Cerita yang kelak akan berakhir bahagia bagaiamanapun perjalanan­nya, bahagia, sedih, kecewa,  dan apapun itu. Sebuah hubungan bukan saja perihal rasa cinta dan sayang tapi ada rasa melengkapi satu dengan yang lainnya. Jika hubungan hanya bertumpu pada sayang dan tidak menghiraukan hal lainnya tentu tidak baik.

“Aku akan berusaha semampu dan sekuatku menuju hidup yang lebih indah bersamamu, Lin. Semoga Tuhan merestui langkah awal kita. Langkah di mana akan banyak perkenalan-perkenalan kecil yang lebih mendalam perihal kita. Dan aku percaya kamu tentu mau menjaalankannya bersamaku. Optimis? Iya, aku selalu optimis jika tentang kita.”

Gantan.


…………………


Kusadar ku tak punya apa-apa selain berbenah karena rasa cinta.
Kuakui padamu tak berdaya hatiku menyerah.
(Arda dan Tantri: Pelabuhan Terakhir)


To be Continued ….


Cerita sebelumnya klik di sini

Hay Kak Rommy di ujung sana, tepatnya pemilik akun @Herrommy di twitter yang bernama lengkap Rommy Dimas Alamsyah. Well, sebenernya gue follow Kak Rommy itu termasuk baru sih, iya baru ada akun macam dia. Semua berawal dari mantengin timeline Koh Lexy @Amrazing ketika dia sedang ke London dan ikut menyaksikan pembuatan film London Love Story, tiba-tiba ada mentionan sama akun dia (re: Kak Rommy) dan itu membahas Dimas Anggara. Well, bermodal rasa penasaran langsung gue follow. Sehari setelah follow gue stalking tweet dia sampe semau gue. Banyak, banyak yang gue temukan dari akun twitternya, salah satunya tentang zodiak. “Selain suka bahas zodiak ternyata orang ini hobi pamer”, kalimat itu yang terbesit di otak gue setelah selesai Stalking.


Balik lagi ke rasa penasaran gue tentang kak Rommy yang dari tweetnya terlihat akrab sama Dimas Anggara. Entah, gue bingung baca tweet dia pas udah membicarakan Dimas Anggara. Jujur gue sampe mikir “Buset orang ini beneran deket banget sama Dimas Anggara, kok bisa kaya mana caranya?”. Belum hilang rasa penasaran gue langsung buka blognya (Herrommy.com) yang di sana ada postingan tentang Dimas. Gue baca gue pahami gue baca lagi sampe gue ngerti dan gue langsung mikir, ini bukan Dimas Anggara yang dimaksud di postingan ini (entah bener apa gak). Well, setelah lama-lama gue cermatin tweet-tweet Kak Rommy ternyata gue paham juga siapa yang dimaksud Dimas sama Kak Rommy terlepas dia fans fanatik Dimas Anggara.


Semenjak follow  Kak Rommy, gue jadi sering baca tweet-tweet random yang menghiasi timeline gue. Mulai dari bahas zodiak, pamer, ngomongin Dimas, bahas masa lalu, sampe bahas cerita horror. Entah kenapa gue semangat baget pas kak Rommy udah mulai cerita tentag masa lalunya, tentang bagaimana dia dulu menghadapi hidup yang belum tentu orang lain dapat melewati itu semua. Ketika udah bahas masa lalu secara tidak langsung kak Rommy kaya ngasih nasehat secara tersirat dari cerita-cerita yang dia tweet. Kalo Kak Rommy lebih baik jelekin diri sendiri dari pada jelekin orang lain. Dan gue setuju itu. Tapi ketika Kak Rommy lagi jelekin dirinya gue justru nangkep maksud lain dari semua itu, kaya ada hal yang ingin disampaikan (gue lebay ya kayanya).


Kak Rommy pernah bahas perihal twitter juga di blognya, nah dari postingan itu gue banyak belajar. Pertama kak Rommy pernah bahas tentang username, dari situ gue tau kalo username yang bagus yang semua sama di media social manapun, alhamdulilah username gue di semua sosmed sama. Terus Kak Rommy juga pernah bahas follow, mention, dan unfollow. Dari pembahasan itu gue bisa ngambil kesimpulan ketika ngetweet ya ngetweet aja gak usah dengerin orang mau nilai ini itu, mau dihina atau apapun toh yang betah akan tetap follow kita.


Belum lama ini gue buka Instagram Kak Rommy dan gue dikejutkan dengan jumlah follower dia  yang sudah mencapai 10K dan yang gak kalah mengejutkan dia gak mengikuti satu orang pun. Jadi sempat membayangkan itu beranda IG isinya cuma punya dia aja . Setelah liat IG dan langsung gue stalking, di bio profielnya aja judulnya udah “tukang pamer” jadi jelas isi IG nya pamer jalan-jalan, pamer makanan, dan tentang zodiak pastinya. Tapi gue sama sekali gak terganggu sih dengan kerjaan Kak Rommy yang tukang pamer, ya setidaknya gue punya impian suatu saat bisa beli kaya gitu juga atau bisa pergi ke sana juga (tempat yang dipamerin). Di twitter bukan cuma Kak Rommy yang hobi pamer, ada juga Koh Lexy yang pamer jalan-jalan , ada Bang Bara yang pamer buku apa aja yang udah dia baca, tapi menurut gue itu sah-sah aja, toh gak ganggu privacy orang lain, malah buat motivasi orang yang baca.


Belum lama ini Kak Rommy cerita horor, dan dari situ gue baru tau kalo Kak Rommy bisa liat yang tak nampak oleh orang lain. Saat orang lain merasa takut justru gue makin penasaran. Tapi yang gue seneng dari Kak Rommy dia gak melulu bahas horor, kasian followersnya kalo ada yang paranoid-an. Belum lama juga Kak Rommy buka sesi share link karena dia mau blog walking, langsung dong gue ikutan. Iya supaya bisa dinilai dan dapet komentar yang membangun. Soalnya gue tau kalo sama Kak Rommy jangan berharap dibagus-bagusin tapi kena komentar yang pedes tapi bisa buat kita lebih baik. Tapi sayang, pas nunggu komentar dia udah lupa mau komen apa (sedih), tapi tak apa toh masih ada kesempatan lain dong pasti, iya gak Kak?


Banyak yang gue dapet setelah follow Kak Roomy, hiburan, nasehat tersirat, dan tweet-tweet halu yang dia posting. Dan satu lagi, mending bahas diri sendiri dari pada ngomongin orang lain di belakang. Dari tweet Kak Rommy juga dapet semangat buat posting blog, meskipun berlum berhasil mewujudkan satu hari 500 kata, tapi tak apa yang penting tetap berusaha. Waktu itu Kak rommy pernah nanya kalo ada kesempatan pengen ketemu siapa yang ada di twitter dan gue jawab Kak Rommy dan Koh Lexy. Entah kenapa gue penasaran bareng sama kalian di dunia nyatanya kaya mana, toh selama ini gue Cuma ngikutin dari dunia maya. Iya semoga saja lain waktu bisa bertemu kalian berdua, aamiin.



Well terakhir nih ya, makasih Kak Rommy udah menghiasi timeline gue walau gue baru follow. Pertahankan dirimu yang seperti itu yang suka pamer dan suka tweet random hingga menjadi hiburan tersendiri buat para jelata (ala Kak Rommy). Postingan ini apa adanya tidak ada niat caper atau apapun murni apa adanya. Oke terimakasih Kak Rommy udah menyempatkan diri untuk membaca di sela rutinitas yang padat, semoga Kak Rommy selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang baik dari-Nya, aamiin. 


Salam dari followers sekaligus temanmu dari Bandarlampung. 


(Sumber Gambar: Koleksi Pribadi)

Kenapa kopi?
Kenapa hujan?

Aku diam.
Bukan berarti paham.

Mataku, matamu.
Tak bertemu.

Tapi doa.
Sesekali meminta.
Dua, tiga bahkan lima.
Sesering apa?
Seperti langit yang berada tepat di atasmu.
Meski tak sadar, tapi kamu tahu.

Kenapa kopi?
Kenapa hujan?

Pahit tapi candu.
Dingin namun rindu.

Kamu?
Penyamun ragu.

Kalian?
kontemplasi harapan.

Bandarlampung, 24 Maret 2016


(Sumber Gambar: Linedeco.com)

"Klik .. Klik .. Klik .."
Suara mouse sedari tadi menemaniku siang ini. Pekerjaan yang sudah aku rampungkan sejak jam sebelas tadi membuat aku tenang. Setidaknya ketika bos lewat aku sudah bisa berkata tugasku sudah selesai hari ini. Aku sibuk membuka file foto dari ekspedisi ekstrimku tempo hari di Pantai Indrayanti. Ekspedisi ekstrim, iya aku nekat ke pantai sedini hari untuk menyaksikan matahari terbit dan bersantai hingga matahari terbenam. Tapi semua iti terbayang mahal oleh kesan yabg aku nikmati di sana. Tenang, indah, dan alami. Hari ini aku mengirimkan file foto kepada sepasang kekasih yang aku jumpai di pantai. Foto asli dan yang sudah aku edit sedemikian rupa, dan hasilnya semacam foto prewed. Aku tertawa geli melihat pose-pose mereka.  Bahkan mungkin dua bulan lagi aku akan mendapat job foto prewed dari seorang sepupu di Surabaya. Menurutku foto prewed itu lucu, melihat sepasang kekasih berpose agar nampak serasi, padahal keserasian tak hanya dilihat dari pose kamera saja. Bayangkan jika bertemu lelaki kaku yang entah bagaimana ekapresinya ketika di depan kemera. Jangankan untuk berpose candid atau lainnya, melontarkan senyum alami saja susah. Terkadang aku harus memutar ide bagaimana mereka bisa mengeluarkan ekspreai alami, iya tentu selain kepandaian mengambil  sudut yang baik.
"Foto siapa itu Nay? Aku baru lihat. Klien baru?" ujar Ranti yang mengagetkan aku. Aku bahkan tak sadar jika sedari tadi Ranti mengamatiku secara diam-diam.

"Ini bukan klien Ran, ini orang yang minta tolong waktu di pantai kemarin. Handphonenya mati jadilah pake kameraku."

"Coba lihat, siapa tau kenal."

"Lucu nih, yang cewe kaku yang cowo malah pose-able." ujarku sambil menunjukan salah satu foto kepada Ranti.

"Kayanya aku pernah tau deh Nay tapi aku lupa.  Iya asli yang cewe kaku."

Aku mengangguk-angguk perkataan Ranti sambil tertawa terkecil.Ranti memang terlalu sering berkata pernah tau, semua orang dianggapnya sering dilihat olehnya. Tapi iya itulah Ranti.
"Aku mau Nay foto kaya gini ya."

"Sama siapa? Kamu udah punya calon? Kok gak cerita?"

Mendengar pertanyaanku Ranti hanya menggeleng dan aku lantas tertawa yang mengakibatkan beberapa staf melihat ke arah alami.

"Cari aja dulu patner pose-nya nanti kalo udah ketemu kamu bilang sama aku, gratis." bisikku kepada Ranti.

Ranti, teman yang kemudian menjadi dekat setelah aku satu pekerjaan dengannya. Menjadi tukang foto hanyalah sampinganku dan sekaligus sebuah hobi. Bahkan, untuk pernikahan Gantan tadinya aku ditawari sebagai tukang foto tapi aku tolak secara halus dengan berbagai alasan yang aku karang sendiri.
"Aku tanggal segitu ada kerjaan Tan. Maaf."

Rona kecewa nampak di wajah Gantan ketika itu, tapi itu semua aku lakukan demi kita, demi acara itu, dan demi semuanya.

Sejak kejadian di sebuah cafe dahulu sempat ada celah yang membatasi Gantan dan aku. Semacam sama-sama menjauh, tapi aku yang paling mendominasi. Kejadian yang membuat aku kalap hingga membuyarkan segalanya. Ketika itu Gantan nampak marah sekali, dan aku belum pernah melihat Gantan semarah itu. Aku menangis sejadi-jadinya dan untung saja aku masih bisa menahan emosiku ketika aku pulang ke rumah.

Lima bulan setelah kejadian itu, aku memutuskan bertemu Gantan dan dia menyerahkan sebuah surat berisi amplop yang akhirnya mengiringku untuk pergi ke Yogya. Lantas apa aku menjauh (lagi) setelah itu? Tentu tidak. Aku sudah menjadi Nay yang dulu, Nay yang selalu ada untuk Gantan dalam siatuasi apapun. Walaupun kami berjauhan tetapi aku selalu memantau Gantan lewat sosial media dan tak lupa aku selalu meminta penjagaan kepada-Nya lewat doa. Sampai kapan? Sampai waktunya tiba aku benar-benar melepasnya. Melepas untuk kebaikanku, dan kebaikan Gantan.

Jika tidak lewat doa, lalu dengan apa?
Membisik pun tak ayal terusik.
Tersenyum pun wajah meranum.
Tak ada, kita.

Aku tetap ada, walaupun fisik aku tak di sampingmu. Semua sudah ada konsekuensinya bukan. Aku yakin aku akan bertemu kebahagianku sendiri, suatu hari nanti. Aku tak pernah egois perihal rasa, dan aku lantas mengubur (r)asa itu dalam-dalam dan berharap ada bibit baru yang akan kusemai.

...................


Biarkan aku pergi tanpa pergi, meninggalkan cinta yang terlalu indah.
Aku tak bisa lagi selalu berpura-pura ..
(Kahitna: Kekasih dalam Hati)

To be continued ..

Cerita sebelumnya klik di sini 


Mentari, dihargai.

Kala gelap, bernyanyi.

Kala terik, termaki.

Jika pergi?

Siapa yang peduli?

Aku.

Kamu?

Tidak!

Sia-sia adalah kita.

Bandarlampung, 17 Maret 2016



Hari ini mentari cukup bisa diajak kerja sama. Hah. Bahkan aku sudah menyiapkan cacian-cacian dalam hati jika hari ini hujan. Ya, meskipun aku menyukai hujan tapi untuk kali ini aku sangat memohon kepada Tuhan agar mentari mau menari lebih ekstra hari ini. Aku sudah menyiapkan segala keperluan untuk melancong hari ini. Cukup dengan membawa tas ransel dan kamera yang sudah aku siapkan baterai cadangannya. Iya, aku sering merasa khilaf jika sudah memegang kamera dan mencari objek mati yang terkesan hidup. Tujuanku hari ini sama dengan tujuanku beberapa tahun silam, Pantai Indrayanti. Pantai yang terletak di Dusun Ngasem, Desa Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Pantai Indrayanti letaknya tepat di sisi timur Pantai Sundak. Keduanya dibatasi oleh sebuah karang. Pantai Indrayanti merupakan pantai spesial versiku. Tidak hanya keindahan laut yang memukau tapi juga bentangan pasir yang masih sangat asri yang membuat siapapun yang melihat merasa harus berulang-ulang bersyukur kepada Tuhan.

“Aku mau ke Indrayanti ya bude, rencana mau sampe malem di sana. Pengen lihat sunrise.”

“Sendirian? Yowes hati-hati lak ngunu! Nanti kalau sudah kemaleman ya nyari penginapan di dekat-dekat sana ae nduk.”

“Siap bude! Aku berangkat dulu nanti sampe sana jam dua mungkin. Gak mau ngebut-ngebut. Aku berangkat ya bude.” ucapku sambil mencium pipi bude dan bergegas menuju mobil dan lekas berangkat.

Kali ini adalah pengalaman pertama aku menyetir sendirian untuk pergi ke tempat reakreasi. Aku memang kerap mencari teman jika ingin pergi ke suatu tempat. Hal ini aku lakukan karena aku kerap mengantuk jika beradda di dalam mobil sendirian. Kuhidupkan lagu dari Kahitna yang terbaru untuk meminimalisir rasa kantukku.

“Tahukah kau selama ini sesungguhnya aku menyimpan perasaan. Kau katakan aku sahabat terbaik. Dan bukan itu yang ku mau sebenarnya.” ucapku secara tak sengaja mengikuti lirik lagu dari kahitna. Banyak hal yang berubah dari Yogyakarta. Salah satunya semakin ramai. Beberapa tahun silam menurutku beelu seramai ini. Ah, Yogya memang menyimpan banyak kenangan.
                                                                    
                                    ***
Nafasku mulai tersengal melewati karang yang lumayan terjal. Kulirik arlojiku sudah menunjukan pukul 03.06 WIB. Aku excited untuk mendapatkan sunrise terbaik pagi ini. Pantai Indrayanti mempunyai spot khusus jika ingin menimati sunrise yang cantik. Kita hanya perlu berjalan menuju bukit di arah timur. Menuju tempat ini kita harus ekstra hati-hati karena melewati semak, memanjat karang dan pasti sedikit melelahkan. Meskipun melelahkan tetapi semua terbayar lunas ketika sudah sampai di puncak bukit.

“Masyaallah, ini luar biasa.” ucapku ketika melihat hamparan Samudera Hindia yang menawan dan tak luput dihiasi music alami dari desisan angin dan deru ombak yang memecahka suasana. Sepanjang mata memandang, aku tak menemukan sampah atau kotoran di pasir yang membuat suasanan semakin apik. Iya, pengelolah pantai Indrayanti memang tegas kepada pengunjung yang sengaja tau tidak sengaja membuang sampah. Aku terpaku dengan kamera dan terus mengabadikan lukisan alam yang tak mungkin aku lewatkan. Sesekali aku memfoto sepasang kekasih yang ada disekelilingku dengan berlatarbelakang senja yang syahdu. Tawa mereka sama sekali menggambarkan rona kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Tiba-tiba ingatanku terbang ke beberapa tahun silam. Sebelumnya aku pernah ke sini, bersama Gantan.

Bermodal nekat dan belum tahu arahan jalan atau apapun, aku dan Gantan kekeh mencari lokasi Pantai Indayanti. Bahkan Gantan harus menggendongku karena aku kelelahan sehabis pulang dari Pantai Indrayanti. Sayangnya kami belum sempat ke bukit ini, kami hanya menyusuri pantai dengan pasir yang indah. Berlari, mengabadikan dengan foto, bahkan aku dan Gantan merebahkan tubuh kami di atas pasir dan menikmati langit yang cerah kala itu. Bahkan foto-foto ini asih ada di kamera dan secara tak sengaja sedang aku lihat kembali. Gantan, matamu tak pernah berubah. Aku lantas mengeluarkan handphone dan memotret salah satu spot yang indah kemudian aku kirim via whatsapp kepada Gantan.

“Kamu jahat gak ajak aku Nay!”

Sebuah balasan yang langsung aku terima dari Gantan. Aku lantas membalasnya dengan sebuah tawa yang amat mengejeknya. Sudah pasti Ganta amat geram dengan polahku saat ini. Awalnya aku mencoba menghilang dari Gantan dan tak ingin berurusan lagi dengannya. Tapi nyatanya tidak bisa, aku kerap khawatir dengan Gatan yang belum mampu dewasa sesuai umurnya. Bahkan hingga saat ini, aku kerap memantau perkembangan hubungan Gantan dengan Ralinka, wanita yang akan mendampinginya, selamanya.

“Mbak, bisa minta tolong ambilkan foto kami pakai handphone ini?” tiba-tiba lamunanku dikagetkan dengan suara sepasang kekasih yang ada dihadapanku.

“Oh iya mas bisa.” ujarku sambil mengambil handphone.

Deeppppppppp.

“Yah mas, handphonenya mati.”

“Aduh, gimana ya, handphone pacar saya juga mati.”

“Udah mas, pake kamera saya saja nanti saya kirim ke email fotonya.”

“Wah, terimakasih sekali mbak.”

Sudah menjadi hal biasa untukku ketika berada di tempat seperti ini menjadi juru kamera dadakan. Tapi aku tak pernah keberatan dengan hal ini, terlebih aku tak segan-segan mengabadikan mereka dengan kameraku dan mengirim hasilnya melalui email.

Waktu sudah menunjukan pukul 20.00 WIB, aku bergegas pulang. Sepanjang perjalanan  keluar dari pantai, aku menikmati pasangan muda-mudi di gazebo-gazebo yang ada di pantai. Ada yang bersama teman-temannya secara bergerombol, ada yang hanya berdua menikmati indahnya buan sabit di atas pantai Indrayanti. Dan aku adalah satu-satunya wanita tegar yang mengunjungi tempat seindah ini hanya seorang diri, tak apa.

Menunggu sunrise sedari dini dan ditutup oleh sunset yang tak kalah membuat iri. Iya membuat iri siapapun yang melihatnya. Cantik dan banyak yang menanti. Seharian aku habiskan dengan melamun dan bersyukur di pantai ini. Lebih dari itu, aku melepaskan semua bebanku dan bertekad mengawali semuanya dari awal. Membersihkan hati dan merapikannya, kelak siapapun yang akan tinggal di dalamnya akan merasa nyaman, tanpa jejak siapapun.

Tak ada yang salah menikmati suatu hal seorang diri. Yang salah terkadang kita tak sadar bahwa hanya kita yang seorang diantara mereka yang mempunyai lawan berbicara. Ah, toh aku bersama Aley, kamera kesayanganku. Jadi aku tidak sendiri kan? Percakapan dalam hati yang tak dapat aku cegah, semakin berkembang, dan berkembang bahkan semakin liar.


Percayalah semua akan kembali baik-baik saja sejalan dengan aku yang akan tetap berdiri (tegar) di sampingmu, selalu. Meski kini, namaku bukan yang pertam kau ucap ketika ada hal yang ingin kau harap. Tak apa, bahagiamu tentu bagian dari bahagiaku, Gantan.

……………………………………………………………

Sore senja di sudut Yogya terucap doa kau tahu is hati ini.
Dan bila itu tak terungkap tetap kunikmati, rasa jatuh sendiri.
Tak mampu kuungkapkan segalanya.
(Nadya Fatira: kata Hati)

To be continued…

Cerita sebelumnya klik di sini


(Sumber Gambar: Linedeco.com)


Entah, mengapa cuaca akhir-akhir ini nampak bersahabat dengan rasa malas. Iya, hujan di pagi hari yang membuat gravitasi kasur terasa lebib besar dari hari biasanya. Jangankan ingin bangun lantas mandi, membuka mata saja sepertinya adalah hal yang luar biasa sulit. Hal tersebut yang sedang dialami Gantan pagi di hari Minggu.  Sebenarnya Gantan hanya menjadikan hujan saat itu sebagai momet bermalas-malas, karena ada hal lain yang menyebabkan Gantan malas melakukan aktivitas seperti biasanya.

Dilihatnya berkali-kali layar handphone tapi tidak ada perubahan. Gantan berharap ada sebuah notifikasi dari sahabatnya, Nay. Rasanya Gantan ingin menghubungi Nay terlebih dahulu tetapi Gantan tak punya nyali sejauh itu. Seingat Gantan hari ini Nay ada beberapa project yang harus dikerjakan. Hal itu yang menjadikan Gantan enggan mengganggu Nay dengan curhat yang tak seberapa.
Langkah kaki halus terdengar mengarah ke kamar Gantan. Langkah yang Gantan sendiri susah hapal itu langkah siapa.

"Tan, sarapan dulu. Ibue udah buat sarapan nih lho."

Gantan melangkahkan kaki keluar kamar dengan muka yang sama sekali tak bertenaga. Gantan menuruni tangga secara perlahan tapi pasti menuju ruang makan bersama ibunya. Ayah Gantan yang saat itu sedang bekerja di luar kota membuat ia harus ekstra wajib menemani ibunya sarapan setiap hari.

"Nih lho sarapan dulu. Ibue udah goreng telor mata sapi setengah matang buat kamu." ujar ibu Gantan sembari mengambil nasi serta lauk yang sudah disediakan.

"Udah bu, jangan banyak-banyak Gantan lagi diet."

Ucapan Gantan langsung ditanggapi hangat oleh ibunya. Ibu Gantan sudah cukup paham jika Gantan sering melakukan diet rutin untuk menjaga bentuk tubuh agar tidak terlalu berisi.

"Tan, jadi gimana hubungan kamu sama Ralinka? Lanjut apa gak?"

"Hemmm.. Sejauh ini lanjut bue. Tapi, aku belum tau gimana Ralinka sama aku. Lha wong kemarin aku bilang aku suka dia malah belum jawab."

"Hemmm. Yowes kamu ajak jalan aja siapa tau hari ini mau jawab kan. Ndang dimaem sarapannya ibu mau buru-buru ke tempat pakdemu, jarene ada urusan penting."

Gantan mengangguk-angguk ucapan ibunya. Bagi Gantan ibunya adalah sosok utama dalam hidupnya. Walaupun terkadang bersifat berlebihan. Termasuk urusan pasangan dirinya. Isu LGBT yang berkembang secara kilat membuat orang tua Gantan menjatuhkan pilihan untuk mengenalkan pada sosok Ralinka, wanita yang selama beberapa minggu menghiasi hidupnya. Awalnya Gantan kekeh menolak hal tersebut, tapi melihat ibunya yang terus mendesak ia tidak tega. Hanya karena tidak pernah membawa wanita ke rumah, orang tua Gantan sudah berpikir terlalu jauh. Bahkan mengira anaknya tidak suka pada wanita manapun. Sebenarnya Gantan sudah pernah membawa wanita ke rumahnya, Nay. Seperti sebuah alasan belaka akhirnya Gantan menceritakan semuanya kepada ibunya bahwa ia dan Nay hanya sebatas sahabat. Tak Gantan sangka ibunya kecewa, karena orangtua Gantan menganggap Nay adalah calon wanita idaman.

"Sudah baik, pinter, dan jago masak. Lha kenapa kamu gak sama Nay aja tho le?"

Banyak yang salah paham dengan kedekatan ia dan Nay. Hanya karena chemistry mereka sangat kuat. Tapi Gantan adalah Gantan. Gantan tak mungkin mengubah perasaannya terhadap Nay, sebatas sahabat.

Ada kalanya yang kita lihat tak seperti yang nyata terjadi. Karena beberapa orang lebih dominan menggunakan mata bukan menggunakan mulut atau telinga untuk menilai sesuatu. Sebuah persepektif yang beraneka yang membuat kita siap mendengan penilaian dari orang di luar sana.

Tapi apapun, kita adalah kita. Kita adalah kaki yang kuat untuk mengartikan semuanya.
Kita punya dua telinga dan satu mulut, artinya kita diciptakan untuk banyak mendengar bukan banyak berbicara.

"Lin, hari ini aku ingin bertemu, nanti jam sepuluh aku susulin kamu ke rumah ya. Jangan lupa, dandan yang cantik :)."

...........................................................

Aku ingin kau tahu, kadang aku menyusahkan. (Kahitna: Bidadari Tak Bersayap)

To be continued ..

Cerita sebelumnya klik ini